Tel: +62-31-298-1029,1019 | Mail: dpm_ai@ubaya.ac.id


PSIKOLOGI KOMUNIKASI DALAM AUDIT

Selain memiliki integritas, objektivitas, dan independensi dalam melaksanakan tugas profesionalnya, seorang auditor harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak yang diaudit atau auditee. Hal ini diarahkan pada suatu kerjasama, agar proses audit dapat berjalan dengan lancar dan hasil yang dicapai sesuai dengan harapan kedua belah pihak.

Terdapat dua faktor penting yang perlu dipahami oleh auditor dalam menjalin hubungan dan komunikasi, yaitu etika dan empati. Kedua faktor tersebut sangat berkaitan dengan upaya menghilangkan hambatan komunikasi, mencegah salah pengertian, dan mengembangkan sifat keterbukaan auditee dalam penemuan fakta-fakta audit oleh auditor. Karena auditee mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda yang lebih dipengaruhi oleh suasana pribadi, budaya, dan lingkungan, maka seorang auditor harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri dan tugas yang akan dilaksanakan, serta selalu meningkatkan dan mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan auditee.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka auditor memerlukan keahlian atau ketrampilan khusus dalam melakukan pendekatan yang lebih baik secara psikologis maupun komunikatif. Tujuannya agar auditor dapat memahami langkah-langkah yang akan ditempuh sehingga dapat terjalin hubungan yang baik dengan auditee.

Menurut Rahmi (2011) bahwa peranan faktor psikologi dalam praktek audit bagi seorang auditor, diantaranya adalah:

a. Penguasaan personal yakni ketrampilan untuk mengklarifikasi dan memahami visi orang, dan mempunyai kesabaran dalam mencapai tujuan

b. Ketrampilan membuat asumsi, generalisasi, gambaran atau kesan secara mendalam dalam memahami kehidupan dan menentukan sikap yang harus diambil.

c. Ketrampilan dalam menciptakan visi bersama sehingga segala usaha menuju tujuan tersebut tercapai.

d. Seorang auditor dapat menciptakan suasana nyaman dan aman sehingga secara psikologis auditee tidak merasa terancam dalam memberikan segala sesuatu atau informasi yang akan dibutuhkan dalam pelaksanaan proses audit.

Davisdan Newstrom (1985) dalam Rahmi (2011) menyatakan bahwa ada beberapa penyebab kegagalan dalam komunikasi sebagai berikut:

Komunikator

§  Tidak mampu berbahasa dengan baik dan benar (hambatan semantis).

§  Awam mengenai pesan yang disampaikan.

§  Diragukan kredibilitasnya, dan lain-lain.

Pesan

Tidak menarik bagi komunikan atau tidak menyangkut kepentingan komunikan

Media

Terkadang media yang dipakai tidak tepat, terdapat gangguan mekanik, gangguan suara/berisik.

Lingkungan

Terjadi ketidakserasian secara sosiologis dan psikologis antara komunikan dan komunikator.

Auditor perlu memahami beberapa hal penting dalam berkomunikasi, sehingga dapat mendukung keberhasilan dalam proses komunikasi (Rahmi, 2011) yaitu:

Credibility

Adanya saling kepercayaan antara auditor dengan auditee akan kemampuan professional masing-masing.

Context

Berhubungan erat dengan situasi atau kondisi lingkungan dimana auditee berada.

Content

Terdapat adanya pengertian/pemahaman auditee terhadap tugas auditor serta adanya kepuasaan kedua belah pihak.

Clarity

Adanya kejelasan isi pesan dan tujuan audit yang hendak dicapai

Continuity and Consistensy

Komunikasi antara auditor dan auditee terjadi terus-menerus dan tidak bertentangan.

Capability of Audience

Auditor hendaknya menyesuaikan dengan kemampuan auditee.

Channel of Distribution

Media komunikasi, menggunakan yang sudah ada atau biasa. Contoh : telpon, faximile, internet, dan lain-lain.

Komunikasi yang dilakukan oleh auditor dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu komunikasi lisan dan tertulis. Komunikasi lisan dilakukan melalui interview baik langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (media), sedangkan komunikasi tertulis biasanya berupa konfirmasi, penyusunan kertas kerja audit (working paper), dan pembuatan laporan keuangan. Bukti audit diperoleh dari komunikasi tertulis, yang nantinya akan menentukan opini auditor.

Terkait dengan fungsinya, komunikasi lisan digunakan sebagai metode pelengkap untuk mencari informasi yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain, seperti halnya investigasi dan observasi.

 

Saat interview audit, suasana psikologis menjadi hal yang patut dipertimbangkan, diantaranya adanya sikap dengan penuh persahabatan, ramah tamah, saling menghargai, dan saling mempercayai sehingga auditee merasa aman dan nyaman, sehingga informasi audit dapat diperoleh sesuai tujuannya. Selain itu menurut Rahmi (2011) bahwa penampilan diri, kemampuan dan keahlian, etika pergaulan, kemampuan berkomunikasi, mampu membaca psikologis auditee dan sifat kepemimpinan merupakan faktor-faktor yang sangat penting pula dalam mendukung keberhasilan dalam penugasan audit.

 

(Sumber :  Lailatur Rahmi – IAIN IB Padang ”Peranan Psikologi dan Komunikasi”)

Artikel ini telah dibaca sebanyak 2440 kali.