Tel: +62-31-298-1029,1019 | Mail: dpm_ai@ubaya.ac.id


MONITORING TINDAK LANJUT LAPORAN AUDIT

Audit Internal dan Monevin (AIM) melakukan pemeriksaan (audit) terhadap Laporan Keuangan Universitas, Kas Kecil dan Bon Sementara yang diperoleh subsistem yang ada di Universitas, Persediaan barang di Gudang Direktorat Administrasi Umum dan Laporan Pertanggungjawaban Unit-Unit Kegiatan Strategis.

Setelah dilakukan audit, maka AIM menerbitkan Laporan Audit yang dikirimkan ke masing-masing unit yang terkait. Namun ini bukan merupakan akhir dari sebuah penugasan audit, karena auditor internal masih memiliki kewajiban untuk melakukan monitoring atas hasil audit (temuan) yang ditindaklanjuti unit.

Tindak lanjut adalah penentuan tindakan apa saja yang telah dilakukan untuk memperbaiki situasi kelemahan pengendalian yang telah diidentifikasi oleh auditor dan dilaoprkan kepada manajemen. Tindak lanjut ini meliputi tindakan perbaikan, penertiban, penyempurnaan ataupun pelaksanaan eksekusi yang dilakukan oleh pimpinan unit untuk menanggapi hasil pemeriksaan yang telah teridentifikasi serta didasarkan oleh rekomendasi yang telah diberikan oleh auditor internal.

Terdapat 3 (tiga) pihak yang memiliki peran dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan (temuan) audit internal, yaitu :

1.     Peran Auditee (Unit yang diaudit)

Peran Auditee yang ideal seperti:

·  Memulai tindakan perbaikan secara kontinyu.

·  Bekerjasama dengan auditor dalam melaksanan review terhadap tindak lanjut.

   ·  Menginformasikan kemajuan tindak lanjut secara tertulis kepada Auditor dan Manajamen.

· Menilai efektivitas biaya.

2.    Peran Auditor Internal

Peran Auditor Internal yang ideal seperti:

· Mereview secara tepat waktu untuk menjamin bahwa tindakan perbaikan yang tepat telah dilakukan untuk menanggapi hasil pemeriksaan audit.

· Menginformasikan secara tertulis kepada auditee dan manajemen mengenai evaluasi yang dilakukan selama melakukan review tindak lanjut.

· Menghormati keputusan manajemen dan tidak memaksakan suatu tindakan kepada auditee, karena auditor telah memberikan pengertian kepada auditee dan manajemen terhadap risiko yang akan terjadi, namun auditor tidak bertanggungjawab apabila manajemen memilih risiko dan tidak melakukan tindakan perbaikan.

·Menghormati waktu dan kegiatan operasional auditee selama melakuan review tindaklanjut.

3.    Peran Manajemen (Pimpinan Unit)

Peran Manajemen  yang ideal seperti:

· Memonitor proses tindak lanjut, mengecek dan mendorong auditee agar respon terhadap laporan tindak lanjut yang diberikan oleh auditor.

· Menilai atau menyetujui ketepatan tindakan koreksi yang dilakukan auditee, serta efektivitas biayanya.

·Tidak mempengaruhi pelaksanaan review tindak lanjut yang dilakukan auditor, sebaliknya mendorong auditor bersikap objektif dan independen.

Dalam menetapkan prosedur tindak lanjut secara tepat, penggungjawab audit perlu mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu :

1.Signifikansi masalah atau kondisi yang dilaporkan dan rekomendasi yang diberikan

2. Besarnya upaya dan biaya yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi tersebut

3.Dampak yang ditimbulkan apabila tindakan perbaikan ternyata mengalami kegagalan

4.Kompleksitas tindakan perbaikan

5.Periode waktu yang terkait

Monitoring tindaklanjut dimaksudkan untuk memastikan ketepatan waktu dan langkah tindak lanjut yang dilakukan oleh manajememen auditee, sebagaimana yang telah disepakati pada saat closing meeting.

Teknik yang efektif untuk memantau kemajuan tindak lanjut, meliputi:

1. Auditor Internal perlu menetapkan tingkat penanggungjawab manajamen unit/ PIC (personil unit) yang harus memikul tanggungjawab perbaikan atau pelaksanaan rekomendasi dari setiap masalah yan teridentifikasi.

2. Menerima tanggapan manajemen terhadap hasil audit dan rekomendasinya, dan kemudian mengevaluasi tanggapan tersebut.

3. Secara berkala menerima pemutakhiran informasi dari manajemen.

Penanggungjawab Audit Internal perlu menerapkan teknik montoring yang tepat dan pertimbangan dari setiap hasil temuan dan rekomendasi yang telah diberikan oleh auditor internal. Pertimbangan tersebut adalah pertimbangan risiko. Semakin besar risiko yang melekat pada aktivitas yang menjadi objek audit, semakin intensif prosedur monitoring tindak lanjut yang diterapkan.

Pimpinan audit internal harus menetapkan kebijakan batas waktu untuk sebuah rekomendasi diperkenakan terbuka. Setelah batas waktu tersebut berlalu tanpa terwujud tindakan perbaikan, penanggungjawab audit harus membuat surat clossing terhadap rekomendasi aktif tersebut, sekalipun belum terselesaikan. Setelah itu surat didistribusikan kepada manajemen, khususnya yang berkaitan dengan masalah yang signifikan atau berisiko tinggi. (IY)

Sumber : Buku Komunikasi Penugasan dan Monitoring Tindak Lanjut – Yayasan Pendidikan Internal Audit

Artikel ini telah dibaca sebanyak 5704 kali.