Tel: +62-31-298-1029,1019 | Mail: dpm_ai@ubaya.ac.id


Teori Portofolio, Risk Aversion, dan Alokasi Modal (Investasi Yang Tepat Disaat Era Pergantian Legeslatif Dan Eksekutif)

Risk & Return

            Semua investasi mengandung unsur ketidakpastian atau risiko. Disaat era pergantian kepemimpinan Legeslatif dan presiden tahun 2014 di Indonesia dan pengaruh Jokowi effect apakah akan berdampak tinggi dalam melakukan investasi di pasar modal atau pasar saham? Apakah harus wait and see dulu. Tidak ada satu pun investor yang mau rugi karena pemodal mengharapkan suatu pengembalian (return) dari dana yang diinvestasikannya. Akan tetapi dalam investasi apapun akan selalu ada risiko bahwa tingkat pengembalian yang terjadi sesungguhnya tidak sesuai dengan tingkat pengembalian yang diharapkan semula. Yang dapat diilakukan pemodal adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari investasinya, dan memperkirakan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sesungguhnya didapat nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Berikut ulasan dari Penulis untuk mencoba mendekatkan dari Teori Portofolio, Risk Aversion dan Alokasi Modal.

            Untuk menghitung keuntungan yang diharapkan dari suatu investasi, lihat contoh berikut ini:

Kondisi Perekonomian

Probabilitas

Tingkat Keuntungan

Makmur

20%

30%

Normal

60%

20%

Resesi

20%

10%

Tingkat keuntungan yang diharapkan disimbolkan E(Ri), dan dihitung sebagai berikut:

E(Ri) = 0,2 x 0,3 + 0,6 x 0,2 + 0,2 x 0,1 = 0,2 atau 20%

Tingkat keuntungan yang diharapkan, dapat juga dihitung dari hasil pengamatan beberapa periode sebagai berikut:

Periode

Tingkat Keuntungan

1

20%

2

25%

3

30%

4

20%

5

30%

6

20%

E(Ri) = (0,2 + 0,25 + 0,3 + 0,2 + 0,3 + 0,2) / 6 = 0,242 atau 24,2%

Untuk menghitung seberapa jauh kemungkinan hasil yang sesungguhnya didapat nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan, yang disimbolkan dengan σ2 (variance), dan σ (standar deviasi), dapat dilihat contoh berikut:

Probabilitas

Tingkat Keuntungan

30%

15%

40%

20%

30%

25%

σ2 = 0,3 x (0,15 – 0,2)2 + 0,4 x (0,2 – 0,2)2 + 0,3 x (0,25 – 0,2)2 = 0,0015

σ = 0,0387

            Setiap investasi mengandung risiko. Bila seorang pemodal mengharapkan return dari investasinya, maka ia menanggung risk bahwa hasil yang didapatkannya tidak sesuai dengan harapan semula. Pada umumnya semakin tinggi risiko yang diambil, maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang diharapkan.

Risk Aversion dan Portofolio

Bila diharuskan memilih antara dua investasi atau lebih, pada umumnya para pemodal akan memilih investasi yang menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dengan risiko yang sama, atau memilih investasi yang memiliki risiko lebih rendah dengan keuntungan yang sama. Pemodal yang demikian ini dikatakan bersifat risk averse (menghindari risiko).

Salah satu karakteristik investasi pada sekuritas adalah kemudahan untuk membentuk portofolio investasi. Dengan membentuk portofolio, pemodal menyebar (mendiversifikasi) investasinya pada berbagai kesempatan investasi, dan dengan demikian dapat mengurangi risiko investasinya secara keseluruhan. Hal ini dapat terjadi dengan harapan bahwa variabilitas tingkat pengembalian (standar deviasi) suatu investasi akan dapat diimbangi oleh variabilitas tingkat pengembalian investasi lainnya yang bergerak secara berlawanan, sehingga standar deviasi dari portofolio secara keseluruhan akan lebih rendah daripada standar deviasi masing-masing investasi yang membentuk portofolio tersebut.

Pada akhirnya, betapapun banyaknya macam sekuritas yang dipegang oleh pemodal, akan selalu ada risiko yang tidak dapat dihilangkan, yang disebut systematic risk. Hal ini merefleksikan bahwa sampai dengan derajat tertentu, tingkat pengembalian sekuritas apapun bergantung pada kondisi pasar secara umum. Sedangkan risiko yang dapat dihilangkan melalui diversifikasi, yang disebut unsystematic risk, merupakan risiko yang khusus dimiliki oleh sekuritas tersebut.

Proses Investasi

            Proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas, yang terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

1.      Menentukan kebijakan investasi.

Disini pemodal menentukan apa tujuan investasinya (dinyatakan dalam keuntungan dan risiko), dan berapa banyak investasi tersebut akan dilakukan. Pemodal yang bersedia menanggung risiko lebih besar (dan mengharapkan keuntungan yang lebih besar), akan mengalokasikan sebagian besar dananya pada sekuritas yang berisiko. Jumlah dana yang akan diinvestasikan juga mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dan risiko yang ditanggung.

2.      Analisis sekuritas.

Adadua filosofi dalam melakukan analisis sekuritas. Pertama, adalah mereka yang berpendapat bahwa ada sekuritas yang harganya salah (mispriced). Ada dua cara untuk melakukan analisis terhadap hal ini: analisis teknikal dan analisis fundamental. Kedua, adalah mereka yang berpendapat bahwa harga sekuritas adalah wajar. Dengan demikian pemilihan sekuritas bukan didasarkan atas faktor mispriced, tetapi didasarkan atas preferensi risiko para pemodal, pola kebutuhan kas, dan sebagainya. Keuntungan yang diperoleh pemodal adalah sesuai dengan risiko yang ditanggungnya.

3.      Pembentukan portofolio.

Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut.

4.      Evaluasi kinerja portofolio.

Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung.

5.      Melakukan revisi portofolio.

Tahap ini merupakan pengulangan empat tahap sebelumnya, dengan maksud kalau perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki.

Pembentukan Portofolio (Alokasi Modal) yang Efisien

            Untuk mendapatkan portofolio yang terbaik (efisien) maka harus dicari kombinasi portofolio dimana dengan tingkat pengembalian yang sama risikonya lebih kecil, atau tingkat pengembalian yang lebih besar dengan risiko yang sama. Dengan prinsip tersebut, maka bila beberapa portofolio yang paling efisien diplotkan dalam grafik akan terlihat seperti dibawah ini:

Semua kombinasi portofolio tersebut merupakan kombinasi yang efisien, dan pemilihannya akan tergantung pada preferensi pemodal terhadap risiko. Apabila short sales diperkenankan, maka garis efficient frontier akan menjadi lebih panjang, karena pemodal akan dapat membentuk portofolio yang menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi daripada tingkat keuntungan tertinggi dari saham individual yang membentuk portofolio tersebut.

Apabila kemudian diperhitungkan pula kemungkinan investasi pada aktiva-aktiva dengan risiko yang sangat rendah (sehingga dapat dikatakan bebas risiko atau disebut risk-free assets), maka dari berbagai kombinasi portofolio pada efficient frontier tersebut hanya akan ada satu kombinasi yang paling efisien, seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

 Kombinasi portofolio yang paling efisien adalah titik yang merupakan persinggungan kedua garis tersebut.

Model Indeks Tunggal Untuk Portofolio

            Dalam melakukan analisis sekuritas untuk pembentukan portofolio, perlu dihitung tingkat pengembalian yang diharapkan dan variabilitas tingkat pengembalian dari masing-masing sekuritas. Selain itu, karena tujuan pembentukan portofolio adalah mengurangi risiko, maka perlu diperhitungkan pula hubungan tingkat variabilitas pengembalian sekuritas yang satu dengan yang lain, agar tercapai variabilitas yang paling kecil. Semakin banyak sekuritas yang dipertimbangkan untuk membentuk suatu portofolio, maka semakin banyak pula variabel dan hubungan antar variabel yang harus dihitung. Untuk menyederhanakan proses analisis sekuritas ini dapat digunakan model indeks tunggal. Model indeks tunggal dapat dirumuskan sebagai berikut:

E(Rp) = αp + βp x E(Rm)

E(Rp)  = ekspektasi tingkat pengembalian portofolio

αp       = rata-rata tertimbang dari alpha sekuritas2 yang membentuk portofolio

βp       = rata-rata tertimbang dari beta sekuritas2 yang membentuk portofolio

E(Rm) = ekspektasi tingkat pengembalian pasar

            Sedangkan untuk menghitung alpha dan beta masing-masing sekuritas yang membentuk portofolio, dapat digunakan persamaan sebagai berikut:

E(Ri) = αi + βi x E(Rm)

Persamaan ini didasarkan pada asumsi bahwa sebagian dari tingkat pengembalian suatu sekuritas bergantung pada kondisi pasar saat ini/ era pemilu (tingkat pengembalian pasar), yang kemudian disimbolkan beta. Sedangkan alpha merupakan bagian dari tingkat pengembalian suatu sekuritas yang tidak tergantung pada kondisi pasar. Nah apakah anda tertarik investasi di pasar modal saat ini, keputusan terserah pada anda. (As).

Sumber :

1   Fabozzi, Frank J, Capital Market: Instutions & instruments. Ch. 8 & 9, Pearson Education,New Jersey 2013.

2 .Purnama Christian & Susilo Agus et.all., PPA Fakultas Bisnis Ekonomika, Ubaya, Surabaya E-maila_susilo@ubaya.ac.id.

Artikel ini telah dibaca sebanyak 3414 kali.