Tel: +62-31-298-1029,1019 | Mail: dpm_ai@ubaya.ac.id


Pentingnya Manajemen Perubahan dalam Era Turbulensi (Surabaya, 11 September 2013)

Dalam konferensi yang mengambil tema “Strategi Organisasi dalam Menghadapi Turbulensi Pengelolaan SDM di Indonesia” ini, menghadirkan beberapa narasumber yang handal dari para praktisi SDM di berbagai organisasi nasional dan multinasional yang memaparkan berbagai tantangan, kiat-kiat serta keberhasilan dalam pengelolaan SDM. Diantaranya Deputy DIC (Director in Charge) PT. Astra International Tbk. (Group Astratel) Bpk. Paulus Bambang W.S.,  Senior Vice President of Human Capital Strategy and Policy PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bpk Alex Denni, HR Director Mondelez Indonesia Bpk. Irvandi Ferizal, Director Bakrie & Brothers Services and Chief Learning Officer of Bakrie Learning Center Bpk. Effendi Ibnoe, Corporate Secretary & GM Corporate Strategy Management Kompas Gramedia Group Bpk. Maryanto Sunu, dll.

Pembukaan konferensiini diawali dengan tarian Selamat Datang dari Team Halo BCAyang  menampilkan keragaman budaya Indonesia melalui kostum, gerak dan lagu. Menariknya, semua penari ini adalah dari karyawan Call Center Halo BCAyang melaksanakan salah satu wujud dari program “penciptaan kegembiraan di lingkungan pekerjaan”. Sebagaimana diketahui, bahwa dulunya tingkat turn over karyawan di bagian call center BCA ini cukup tinggi, selain itu juga tingkat ketidaknyamanan karyawan (merasa pekerjaan tidak memberi nilai tambah, membosankan, mendengarkan komplain, pekerjaan tidak tetap, dsb)juga semakin meningkat.Berdasarkan data dan persepsi ini, disusunlah sebuah strategi SDM oleh pimpinanBCA yaitu merubah pola pikir karyawan bahwa  pekerjaan call center adalah sebuah pekerjaan dengan Misi Mulia dimana terdapat kejelasan karir, skema penggajian yang menarik, penghargaan, kesempatan untuk diangkat menjadi karyawan tetap, kesempatan benchmarking ke luar negeri. Misi Mulia bermakna “delivering happiness”, “Happy Customer Comes from Happy Team”. Sehingga diciptakanlah kegiatan-kegiatan yang membangkitkan moral kegembiraan karyawan, senitari adalah salah satu wujudnya. Hasilnya cukup mengejutkan, bahwa tingkat keterlibatan karyawan (team engagement) meningkat, turnover menurun, prestasi sebagai The Best Contat Center berhasil diraih, demikian juga 91 award di tahun 2012, serta menjadi tempat yang dituju untuk benchmarking.Patut dicontoh dan sangat menginspirasi!

Terkait dengan tugas-tugas manajemen perubahan ini, menurut Eddi Sutanto, Direktur PQM & Change Management Specialistdalam materinya tentang “Change Management in HR Turbulence” menyatakan bahwa perubahan organisasi hanya terjadi jika individu merubah perilakunya.  Selanjutnya, dijelaskan juga bahwa perlunya tahapan dalam manajemen perubahan yaitu:  1) Menciptakan kesadaran dan pentingnya melakukan perubahan, 2) Membangun perilaku baru yang mendukung pelaksanaan strategi, 3) Mempertahankan perubahan.Disinilah  keterlibatan pimpinan di sepanjang proses perubahan merupakan faktor kunci dan sangat diperlukan. Dukungan pimpinan demi keberhasilan sebuah perubahan harus pada level “Leading” yaitu aktif dan nyata, yaitu terlibat langsungdan terlihat oleh karyawan, memberikan dukungan anggaran, serta memonitor. Peran unit kerja manajemen perubahan dan HRD dalam hal ini adalah memandu dan memfasilitasi perubahan dan pembentukan pola pikir, perilaku, keahlian atau kompetensi yang sesuai kebutuhan organisasi, serta pola manajemen dan kepemimpinan organisasi.

Selanjutnya, menurut model Prosci ADKAR (Jeffrey M.Hiatt), bahwa tahapan dalam manajamen perubahan  adalah: Awareness: timbulnya kesadaran  terhadap adanya kebutuhan akan perubahan, Desire: gairah atau keinginan dari seluruh pimpinan dan staf untuk mendukung dan berpartisipasi dalam perubahan, Knowledge: perlunya pengetahuan bagaimana untuk melakukan perubahan, Ability: memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan keahlian dan perilaku yang dibutuhkan organisasidalam rangka mengelola perubahan,  dan Reinforcement: perlunya penguatan untuk mempertahankan perubahantersebut.  Berdasarkan model  ADKAR, tantangan terbesar bagi UBAYA adalah bagaimana menimbulkan gairah atau keinginan dari seluruh pimpinan UBAYA dan staf dosen dan non-dosen untuk mendukung dan berpartisipasi dalam setiap perubahan sistem manajemen yang ditetapkan. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Direktorat Penjaminan Mutu dan Audit Internal (DPMAI)-UBAYA khususnya divisi Manajemen Perubahan dan Budaya Mutu Organisasi yang bertugas untuk mengawal setiap perubahan manajemen terkait dengan penerapan sistem manajemen terbaru.

Belajar dari organisasi yang berhasil dalam mengelola perubahan, bahwa keberhasilan sebuah organisasi melakukan perubahan dapat diidentifikasi dari: 1) Speed of Adoption (seberapa cepat individu mengikutiperubahan), 2) Ultimate Utilization (berapa banyak individu yang terlibat dalam perubahan), 3) Proficiency (bagaimana kinerja yang terlihatdengan adanya perubahan tersebut).

Mudah-mudahan dengan keikutsertaan staf UBAYA dalam acara konferensi ini, bisa  menimbulkan inspirasi bagi UBAYA dalam mengelola perubahan yang terjadi di Universitas Surabaya.(Audia & MR)

Foto Tarian Selamat Datang Team Halo BCA

 

Photo Booth: Bu Audia dan bu Endang

 

Foto Bpk Effendi Ibnoe (memegang mic) sebagai pembicara “Enhancing Capability – How do We Develop Leaders?

Artikel ini telah dibaca sebanyak 738 kali.