Tel: +62-31-298-1029,1019 | Mail: dpm_ai@ubaya.ac.id


CITRA DIRI SAYA DAN CITRA UBAYA (Surabaya, 24 Juni 2014)

Coba simak dua dialog dibawah ini :

Dialog Pertama

Masyarakat Luar:“mbakkan kerja di Ubaya, anak saya ingin saya daftarkan di UBAYA, gimana cara daftarnya ya, berapa biayanya, apa saja fakultasnya ? “

Karyawan Ubaya:“ ehm….ehm….maaf ya bu, saya gak tau karna pendafaftaran mahasiswa baru, bukan bagian pekerjaan saya”

Dialog Kedua

Masyarakat Luar:“Bapak kerja di Ubaya kan, saya denger dari beberapa orang kalau satpam ubaya galak,sering marah marah, terus orang yang bagian terima telp itu judes judes, itu bener gak sih pak. Padahal ya pak ini ada rencana keponakan saya mau saya suruh masuk Ubaya, tapi saya jadi ragu”

Karyawan Ubaya: “Itu hanya kabar angin bu, satpam sama operatornya ramah bu

Cuplikan dialog diatas adalah gambaran real yang pernah dialami oleh beberapa karyawan UBAYA, ketika terdapat relasinya seperti temannya, tetangganya bahkan suadaranya sendiri yang bertanya tentang UBAYA. Berdasarkan dialog diatas kita bisa mencermati beberapa hal:

-          Dialog Pertama : karyawan kurang menguasai ubaya, sehingga bisa menimbulkan citra negatif dari masyarakat luar bahwa karyawan Ubaya tidak menguasai informsi terkait pendaftaran

-          Dialog Kedua : masyarakat luar memiliki citra negatif terhadap Ubaya.

Bisa disimpulkan dari kedua dialog diatas, bahwa hal kecil yang terjadi disekitar kita terkadang bisa membentuk citra negatif ubaya. Berdasarkan permasalahan diatas, maka UBAYA mengadakan pelatihan pencitraan dan Keprotokoleran Bagi Karyawan Angkatan I tahun 2014 yang telah diadakan pada Selasa,24 Juni 2014 di Gedung Perpustakaan Lantai 5.UBAYA Tenggilis. 

Pelatihan ini terbagi menjadi 2 sessi. Untuk Sessi pertama adalah pencitraan dengan pembicara Ibu Astrid Wiratna, sedangkan yang kedua adalah Keprotokoleran dengan pembicara Bapak Johan Fitriadi, SSTP, M.Si. Pada kesempatan ini saya dan rekan kerja sana didelegasikan untuk mengikuti pelaihan tersebut. Berikut akan kami berikan resume yang tentang pelatihan Pencitraan.

Pelatihan pencitraan diadakan agar karyawan Ubaya mampu menampilkan citra positif baik dirinya maupun Ubaya sehingga masyarakat di luar UBAYA bisa menangkap citra positif UBAYA.

Berbicara mengenai tujuan diatas, maka langkah yang harus dilihat terlebih dahulu adalah membentuk citra diri yang positif.

Bagaimana agar orang di luar Ubaya bisa memberikan penilaian bahwa citra diri Ubaya positif ??

 Jawabnya: Kita harus bisa memberikan kesan pertama yang positif pada masyarakat luar. Tiga aspek dalam kesan pertama adalah bahsa tubuh, cara berbicara dan isi pesan yang kita sampaikan.

Pada saat kita bertemu dan berbicara dengan orang baru, maka pertama kali yang akan ditangkap adalah bahasa tubuh kita. Lalu hal kedua yang dilihat adalah cara berbicara. Sedangkan Isi pesan yang kita sampaikan menjadi hal ketiga yang diperhatikan orang.

Bahasa tubuh yang dimaksudkan meliputi mimik muka, gerakan tubuh, cara duduk/berdiri/berjalan, pakaian yang dikenakan, barang milik pribadi, kebersihan dan kerapian. Sedangkan cara berbicara yang dimaksudkan disini adalah  nada suara, volume suara, intonasi, aksen,nafas dan kejelasan ucapan.

                Citra diri yang positif bisa terbentuk dengan melakukan latihan selama 6 minggu berturut turut tanpa jeda. Mulailah dengan melakukan kebiasaan dibawah ini:

1.       Bicara sambil tersenyum

2.       Menyapa lebih dahulu dengan salam

3.       Menunjukkan semangat dalam menanggapi

4.       Menggunakan kata-kata kunci: maaf, tolong dan terima kasih sebanyak mungkin

5.       Pamit kalau meninggalkan tempat

6.       Mengendalikan emosi waktu berhadapan dengan orang lain

Untuk melatih diri kita, maka tanamkan pada diri kita bahwa tidak ada rumus yang lebih pas selain berlatih dan berlatih. Apa yang kita rasakan akan menjadi pikiran, apa yang kita pikirkan akan menjadi perilaku. Perilaku yang berulang ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang mendarah daging menjadi karakter, Karakter menentukan nasib kita.

Selain itu hal yang terpenting dalam membentuk kebiasan diatas adalah Ketulusan untuk melakukan bukan kepalsuan dalam melakukan hal diatas. Menjaga Citra diri bukanlah sebuah kewajiban, jika tidak suka lebih baik tidak usah menjalankannya, namun resiko ditanggung sendiri. (AA)

Artikel ini telah dibaca sebanyak 479 kali.